PMI Jakarta Utara Lanjutkan Operasi Kemanusiaan di Gayo Lues, Fokus Layanan Kesehatan dan Psikososial
PMI Jakarta Utara Lanjutkan Operasi Kemanusiaan di hari ke-7, Fokus Layanan Kesehatan dan Psikososial
Gayo Lues – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Jakarta Utara terus melanjutkan operasi kemanusiaan di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, pasca bencana banjir bandang dan tanah longsor. Hingga hari ketujuh penugasan, tim relawan PMI Jakarta Utara aktif memberikan pelayanan kesehatan, dukungan psikososial, distribusi bantuan logistik, serta kegiatan kerja bakti di sejumlah desa terdampak.
Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi (Infokom) PMI Jakarta Utara, Ilham Dharmawan, menjelaskan bahwa pelayanan mulai dilakukan secara intensif sejak hari keempat setelah tim tiba di lokasi. Hal tersebut dilakukan setelah relawan melakukan penyesuaian kondisi dan pemetaan kebutuhan di lapangan.
“Pelayanan kesehatan dan dukungan psikososial kami lakukan di Desa Titu Rimel dan Desa Ekan. Untuk menuju Desa Ekan, relawan harus melewati jalur sungai dengan arus cukup deras karena akses jalan terputus akibat jembatan rusak,” ujar Ilham, Jumat (16/1/2026).
Selain memberikan layanan medis dan trauma healing bagi anak-anak, PMI Jakarta Utara juga menyalurkan bantuan sembako kepada warga terdampak. Di Desa Ekan, relawan turut melaksanakan kerja bakti membersihkan kayu-kayu gelondongan yang menumpuk di kantor desa yang sementara difungsikan sebagai sekolah taman kanak-kanak.
Dalam operasi kemanusiaan ini, PMI Jakarta Utara mengerahkan sebanyak 21 relawan dengan berbagai keahlian, terdiri dari satu dokter, dua perawat, satu apoteker, relawan lapangan, serta pengemudi operasional.
Ilham menambahkan, sebagian besar penyintas hingga kini masih bertahan di lokasi pengungsian. Bencana yang melanda wilayah tersebut merupakan kombinasi banjir bandang dan tanah longsor akibat curah hujan tinggi yang terjadi selama tiga hari berturut-turut.
“Air sungai meluap dari bawah permukiman, sementara longsor terjadi dari perbukitan di atas desa. Kondisi ini menyebabkan banyak wilayah belum bisa kembali dihuni,” jelasnya.

Dari sisi penanganan, pemerintah daerah telah mendirikan tenda-tenda darurat serta menyalurkan bantuan pangan berupa beras. Namun, perbaikan infrastruktur masih menjadi tantangan besar.
“Kerusakan infrastruktur cukup parah dan membutuhkan alat berat serta waktu yang tidak singkat, bahkan bisa memakan waktu bertahun-tahun,” kata Ilham.
Sementara itu, masalah kesehatan yang paling banyak ditemui di pengungsian adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada anak-anak. Kondisi tersebut dipicu oleh debu di sekitar lokasi pengungsian yang berada di tepi jalan utama.
“Sebagian besar kasus masih dapat ditangani oleh tim relawan di lapangan,” tambahnya.
Untuk kebutuhan pangan, Ilham memastikan relatif tercukupi. Namun, aktivitas ekonomi warga masih terhenti akibat rusaknya akses jalan dan permukiman. Selain itu, beberapa desa seperti Desa Ekan masih belum memiliki aliran listrik, sementara di sekitar markas PMI Kabupaten Gayo Lues, listrik dan jaringan internet masih berfungsi.
Ke depan, PMI Jakarta Utara berencana melanjutkan pelayanan kesehatan ke Desa Palo dan Desa Agusen dengan waktu tempuh sekitar tiga jam dari markas. Operasi kemanusiaan ini dijadwalkan berlangsung sekitar sepuluh hari ke depan sebelum dilakukan evaluasi lanjutan.
“Setelah seluruh rangkaian pelayanan selesai, tim akan melakukan evaluasi untuk menentukan langkah kemanusiaan berikutnya,” pungkas Ilham.
